Ikhlaskan Cinta

“ada apa sih dengan kita?” itu pertanyaan yang pertama kali gw tanyakan ke dia.

“menurut kamu gimana?” answer a question with question…typical. Jari gw menari di atas meja mencoba berpikir sambil melihat dia yang tampak salting setiap saat gw menatap matanya.

Gw menghela napas dan berkata, “kita ada apa-apanya.” sambil tetap mempertahankan ekspresi datar, tapi gw tau mata ini tidak bisa bohong. Gw menatap dia penuh perasaan.

Dia tersenyum, “aku juga berpikir demikian.” tangannya saling mengatup, kepalanya tertunduk malu, gw tau dia tidak dapat menahan rona merah pada mukanya. Gw juga mencoba menahan untuk tidak tersenyum.

Banyak orang lalu lalang disekitar kami tapi kami tidak peduli. Back sound tempat ini mendukung suasana kami…Kahitna – Takkan Terganti. Gw benci back sound ini…

Perlahan dia mengangkat kepalanya, senyum itu masih ada pada paras cantiknya. Tampak tulus menenangkan hati. Andai waktu berhenti, gw akan peluk dia. Kembali gw menahan hasrat itu. Mencoba mencari kata-kata yang tepat tapi mata itu terus membuyarkan konsentrasi gw. Harus stop memandang dia tapi ngga bisa…konflik batin.

“kok diem aja?” tanya dia penasaran. Gw tersentak dan akhirnya tersenyum.

“ngga, ngga apa-apa.”

“yakin?”

Gw langsung meraih tangannya, menggenggamnya erat, “iya…aku yakin.”

Senyumnya tambah merekah…shit, this is going to be hard but I have to.

“let me ask you something”

“apa?” dia makin penasaran.

“kenapa kamu masih mau ngeladenin aku?”

“tanpa aku kasih tau, kamu udah tau jawabannya.” Jelasnya

speechless…

Dan tiba-tiba hujan…great. Gw harap rintik hujan menyamarkan degup jantung gw yg semakin cepat…yes, gw gugup.

Gw harus ngomong, “pada awalnya, dari mana kamu tau aku suka bintang?” What kind of stupid question is that?

Dia menjawab dengan tegas, “karena aku suka memperhatikanmu, nyata maupun maya.” oh, stalker

Akhirnya gw memutuskan, “mau sampai kapan kita begini terus?”

“maksudnya?” ya elah, dia nanya lagi…

“mau sampai kapan kita memendam rasa yang sudah jelas kita miliki untuk satu sama lain?” gitu aja harus dijelasin.

Wajahnya tertunduk, dia menahan sesuatu, “tolong…biarkan aku seperti ini lebih lama. Biarkan aku merasakan kehangatanmu. Biarkan aku merasa nyaman bersamamu. Biarkan aku…please.” sial, di mana Batman kalo dibutuhkan.

Perlahan gw lepaskan pegangan tangannya, ada sedikit perlawanan namun berhasil gw tepis. Dengan berusaha tenang gw angkat bicara, “aku…kita ga bisa begini terus. Dia menyayangimu dengan tulus. Sedangkan aku hanya bisa menyayangimu dengan ikhlas.”

Seperti yg sudah gw duga, dia mewek. Shit, gw harus tega. Gw berdiri, menggeser kursi ke belakang dan membelai rambutnya untuk yg terakhir kali, “temukan kebahagiaanmu meski itu bukan aku.”

Suara hujan menyamarkan tangisannya dan gw sambil berlalu tidak sekalipun menengok ke belakang…karena gw terlalu sayang dia~

Advertisements

Pesan dan Kesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s