Malam Minggu

Keramaian terlihat dari sudut mana pun, ada yang pacaran, hang out bareng temen, makan malam keluarga, pelancong dari luar kota, pengamen dadakan. SUMPEK AMAAAAT!!!

Gw paling ga suka keramaian, bising, bikin pusing. Orang-orang lalu lalang peduli dengan urusannya masing-masing. Taman ini juga tidak luput dari kerumunan manusia.

Kalau malam ini ga harus lembur, gw udah selonjoran di kasur sambil maen game. tapi kalau kerjaan ini ga gw ambil, rekening kosong.

Ini orang fotonya ga bisa lebih jelas apa? Data-datanya pun minim.

*tidak lama kemudian*

Ah, sasaran terlihat…bidik, daaaan yak tepat di kepala.

haaah, gw paling benci kerja di malam minggu!!!

Advertisements

Hujan Perpisahan

Derasnya hujan makin terasa, tubuh kami sudah basah kuyup karena terlalu lama berdiri di tempat terbuka. Tak ada seorangpun dari kami yang bergerak, hanya tutur kata yang beradu di udara.

“kamu mengerti kan maksudku?”

“iya, semua ini memang harus terjadi.”

“kamu tidak marah?”

“kenapa aku harus marah?” Senyum merekah dari bibirnya.

“kamu tahu aku mencintaimu…tulus.”

“iya, sinar matamu tidak berbohong. Aku juga mencintaimu.”

Kilat saling bersahutan, aku tidak peduli jika tersambar…mungkin lebih baik seperti itu.

“aku sangat menyesal dengan apa yang akan terjadi.” Hujan menyembunyikan air mataku.

“jangan menyalahkan dirimu sendiri, do what you must do.”

I love you.” …DOR!

Aku dan Kapten

“Status awak?”

“Semua berhasil menyelamatkan diri, Kapten.” Sang kapten meminum segelas teh Earl Grey. Dengan wajah gelisah dia melihat ke panel kontrol.

“Kondisi mesin?”

“Semua dalam kondisi prima, tetapi lambung kapal hanya akan bertahan kurang dari 3 menit,” jelasku.

“Tetap dalam kecepatan berbalik maksimal, kita harus tetap berusaha sampai akhir.”

Sang kapten melihat ke sekeliling interior anjungan. Dia merasa sangat bertanggungjawab dengan apa yang terjadi. Tangannya halus menyentuh sandaran kursi kapten.

“Kapten, merupakan satu kehormatan mengabdi untuk anda.”

“Hmmm, terima kasih, aku pun demikian AI.” Matanya menatap monitor utama yang menampilkan pemandangan Black Hole kian mendekat.

Anda seorang pemberani Kapten.

I don't want to be in that kinda position 😐

Target Tersayang

Salah asuh ni ucing XD

Arah angin berpihak kepadaku malam ini dan jarak pandang sama sekali tidak terganggu. Dari atas gedung ini semua tampak kecil, namun ku dapat melihat targetku. Saatnya melapor, “masuk pusat, target ditemukan.”

“laksanakan.”

“ada saksi, aku ulangi, ada saksi dekat target.” Sebutir keringat meluncur dari kepalaku.

“tidak ada saksi.”

Ku terdiam sesaat, “dimengerti.” Hati ini sudah mantap.

Merakit ‘Thomas’ adalah perkara mudah sambil ku mengingat apa yang istriku masak untuk hari ini. Bagaimana anakku di sekolah tadi. ‘Thomas‘ selesai dirakit kemudian ku ambil posisi.

Tidak butuh lama untuk mengunci target dan, DORDOR.

Target dimusnahkan.

Selamat tinggal anak istriku, aku segera menyusul….DOR.

Hey

Dijual di Indonesia juga ga ya?

Ponselku berbunyi, dengan cepat kulihat siapa yang menelpon…Agnes.

“halo yang, hey, gimana tesnya?” tanyaku mesra.

“uh, ngebetein deh yang, pertanyaannya susah-susah. Banyak yang aku ga isi.” Suaranya terdengar sedih di telingaku.

“ya udah, yang penting kamu udah usaha. Nanti jadi aku jemput?” Tangan kiriku memainkan kunci mobil.

“kamu jemputnya di rumah aja ya, ini aku dah mau pulang.” Suaranya berubah jadi lebih ceria.

“oke, kamu hati-hati di jalan ya. Kalo hujan berteduh dulu aja,” saranku.

“iya, cerewet.” Dia tertawa.

“see you then.”

“ok, love you.” Kumatikan telponnya,

Selang beberapa detik ponselku kembali berbunyi…Mira.

“halo beb…aku kangen nih,” sapaku sedikit manja.

Petik Bunga

Stormtrooper sih galau...

Dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak mencintaiku, dia mencintaiku, dia tidak…tenang, masih banyak kok bunga untuk dipetik.

Separate Ways

Kita terdiam…

“Kamu ngomong dong.”

“Kenapa ga kamu aja yang ngomong?” ku mulai memainkan hapeku.

Kembali terdiam…

“Kamu kan biasanya rame, kok sekarang malah jadi gagu gitu?” dia makin tidak sabar.

“Apakah salah kalau saat ini aku hanya ingin diam, berdiri di sini, menatapmu, mengagumimu?” hape kumasukkan ke saku.

“Sekarang katakan, mau kamu apa?” terlihat dia menahan air mata.

“Aku hanya ingin memastikan apa yang kita miliki nyata.”

Matanya memerah, “percayalah itu semua nyata adanya.”

“Walau sesaat?” tanyaku lembut.

Diapun mengangguk.

We will never be the same

Lagi, dia mengangguk

“Maaf, aku harus kembali” dia berbalik.

Dengan anggun, berjalan…menuju pernikahannya.